Doa, perempuan, dan Malam yang Tak usai

  • Whatsapp
Oleh: fang Iful
banner 468x60

Intelijen007news, Opini – Kegelapan adalah seperangkat kenangan yang lupa menyucikan diri sehingga terbuang dalam kubangan kekalutan yang disebut malam.

Sementara malam adalah penampungan manusia-manusia kesepian yang lupa harus berbuat apa. Hanya sibuk meratapi hari-hari yang akan datang dengan sekelumit pertanyaan, “Kemana aku setelah ini?”.

Sungguh, birunya laut atau lapangnya langit tak mengubah isi hati dan pikiran manusia yang kesepian. Harusnya semesta memberi isyarat, mana hidup yang layak dijalani atau justru memberikan peluang pada kematian yang mendesak.

Para pekerja keras akan menjarah tubuhnya, menampung keringat berharap malam segera tiba. Sementara perempuan malam dan lelaki mata keranjang berharap malam tak pernah selesai, di belahan lain anak-anak bangsa berharap pagi segera menyambut agar bisa kembali belajar dan bermain dengan luasnya dunia imajinasi.

Kepakan sayap kupu-kupu di belantara Kalimantan berakibat pada luapan air laut berbuntut tsunami di beberapa daerah, jika Butterfly effect digunakan bisa jadi tangis seorang bocah di pedesaan berdampak kesurupan pada anggota Dewan di Senayan.

Ekologi semakin rusak, parah kondisi bumi. Sehingga malam seolah menjadi tempat segala risau diistirahatkan, sebab siang telah menjadi neraka yang membakar segala rasa.

Tetapi dengan kemajuan teknologi, malam tak ubah seperti siang yang merampok segala kedamaian.

Kota-kota besar telah kehilangan sensasi kemanusiaan, itulah sehingga orang-orang kaya cenderung hijrah ke desa lalu menganggap kota tak lagi layak ditinggali, se-kampret itu nanti.

Kontradiksi dari stigma dan standar moral atas sempitnya wawasan. Sehingga orang-orang desa juga cenderung menganggap kampung sebagai kondisi yang stagnan, tidak maju-maju.

Memaksa nyaris setiap anak desa untuk merantau ke kota, menjebakkan diri pada malam tak bernama yang panjang.

Sebagian lelaki bajingan yang takut pancaran mentari, mengandalkan malam untuk melantunkan doa-doa singkat untuk harapan yang berkelanjutan.

Menjahit kalender yang retak, agar tetap utuh menuntunnya ke hari esok.

Baca berita: Awal Informasi Asmara Gelap Seret Nama Oknum Anggota DPRD Sinjai

Para perempuan yang nyaman dalam hegemoni konsumerisme, senantiasa betah pada koleksi ​make up ​dan mengutuhkan keagungan malam sebagai kesatuan yang tetap mempercantik wajah.

​​”Sungguh waktu adalah aniaya bagi perempuan” , akankah ungkapan Pram berlaku dalam tempo yang panjang. Atau perhiasan merubah segalanya menjadi layak?

​​​​​​Siang memang bukan saat terbaik untuk membahas perihal romansa. Walau emosional berlaku selama manusia hidup, tetapi malam masih unggul memunggungi segala kesedihan hamba-hamba amatir yang dikoyak sepi sebab kehilangan cinta.

Malam selalu memberikan banyak hal kepada manusia, lalu merenggutnya sebelum matahari terbit. ​​​Apa-apa yang dimiliki seolah begitu sesaat, lalu siang-malam berganti seolah mengajari manusia tentang hidup dan segala yang mengiringinya sangatlah sementara.

Kebanggan pada kecantikan atau kesombongan atas ketampanan hanya berlaku saat matahari memberi kabar. Sungguh, seistimewa apapun sesuatu akan tetap terlihat hitam tanpa setitik cahaya.

Ada banyak pesan-pesan tersirat saat malam hari dan tak pernah menjadi surat yang sampai hingga sore. Semua menjadi diam, mendendam kuat mengubur bersemayam dalam mimpi buruk manusia yang kehilangan kasur empuk. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *